Categories: Artikel Kesehatan

Japanese Encephalitis di Indonesia

Japanese Encephalitis di Indonesia

Klinik Prostasia dan Prostasia Onsite – Japanese Encephalitis di Indonesia merupakan penyakit yang mematikan. Namun kita perlu tahu terlebih dahulu apa itu Ensefalitis. Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme. Japanese encephalitis adalah ensefalitis yang disebabkan oleh virus Japanese encephalitis (JE), virus yang termasuk famili Flavivirus, yang ditularkan melalui nyamuk, terutama spesies Culex tritaeniorrhynchus yang bertelur di air tergenang, misalnya di sawah. Nyamuk ini terutama menggigit manusia setelah matahari terbenam.

Ensefalitis JE lebih sering ditemukan di negara beriklim tropis seperti Indonesia dibandingkan negara beriklim dingin, terutama pada musim hujan. Pada penelitian tahun 2005-2006 di Indonesia, ditemukan sebanyak total 1496 kasus ensefalitis, dengan 28 kasus di antaranya disebabkan JE. Proporsi JE sebagai penyebab ensefalitis bervariasi antara 2%-18%. Sembilan puluh lima persen kasus ditemukan pada anak berumur kurang dari 10 tahun. Mortalitas dan gejala sisa neurologis terjadi pada 47% kasus.

Masa inkubasi virus JE adalah 5-15 hari. Pada awalnya, infeksi JE dapat terlihat sebagai infeksi virus biasa dengan gejala demam beberapa hari, disertai pilek, diare, muntah, dan nyeri kepala. Perkembangan penyakit yang paling buruk adalah terjadinya ensefalitis. Gejala ensefalitis adalah kejang dan penurunan kesadaran. Deskripsi klasik ensefalitis JE adalah wajah seperti topeng dengan mata terbuka tanpa mengedip, tremor, hipertonia rigiditas, dan opistotonus. Dapat pula terlihat mioklonus dan koreoatetosis, dan kelumpuhan saraf otak.

Penyebaran Japanese Encephalitis

Sebagian pasien yang terinfeksi virus JE dapat sembuh sendiri. Meskipun demikian, dilaporkan sekitar 30% pasien meninggal akibat ensefalitis JE, dan separuh di antara yang selamat menunjukkan gejala sisa neurologis berat berupa kelumpuhan, gejala ekstrapiramidal, ganguan kognitif dan bahasa. Gejala sisa lebih sering ditemukan pada anak. Gejala sisa yang ringan berupa kesulitan belajar, gangguan perilaku dan gejala neurologis minor.

Rekomendasi IDAI

Dalam rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2017, vaksin japanese encephalitis (JE) direkomendasikan hanya apabila anak berada / berpergian ke daerah endemis selama lebih dari 1 bulan atau kurang dari 1 bulan namun dengan rencana mengunjungi daerah pedesaan atau daerah outbreak. Namun, dikarenakan persebaran nyamuk Culex cukup merata di Indonesia, vaksin JE juga direkomendasikan bagi mereka yang tinggal di daerah padat penduduk terutama di/dekat pedesaan/perkampungan. Rekomendasi serupa juga diterapkan pada dewasa, dengan rekomendasi khusus untuk tenaga kesehatan yang berisiko tertular JE, termasuk pegawai laboratorium.

Saat ini, Kementerian Kesehatan Indonesia baru memulai kampanye vaksin JE di Provinsi Bali (2017-2018) dan kota Manado (2019). Vaksin yang beredar saat ini adalah JE-Vax dari Jepang (Biken), Korea (Green Cross), SA-14-14-2 (China), dan Imojev (Sanofi, Australia). Jadwal optimal vaksin JE untuk anak adalah pada usia 12 bulan dan diulangi 1 hingga 2 tahun berikutnya (booster). Pada anak usia lebih tua dan dewasa, pemberian vaksin JE dapat dilakukan dua kali dengan selang waktu 1-3 bulan, dengan booster setelah 5 tahun. Dosis vaksin JE adalah sebanyak 0.5 mL disuntikkan secara subkutan. (prostasia.id – marcus)




Ido Genesio