Artikel Kesehatan

Sudah ASI Masih perlu Vaksin?

“Anak saya gak usah vaksin lah, kan saya nyusuin. Cukup dong perlindungannya, daripada disuntik, kasian kan”

Pernah dengar kalimat seperti ini? Bagaimana pendapat Anda?

Masih banyak masyarakat yang berpendapat bahwa air susu ibu dapat menggantikan fungsi dari vaksin. Benarkah demikian? Yuk kita lihat bersama.

1. Air susu ibu (ASI) memiliki antibodi

Betul sekali. ASI selain memiliki nutrisi yang cukup yang sesuai dengan usia dan kondisi anak, juga memiliki antibodi tipe Imunoglobulin A (IgA). Antibodi ini terutama keluar lewat kolostrum atau ASI yang awalnya keluar berupa cairan kekuningan. Antibodi yang terkandung dalam ASI sangat berguna bagi anak karena dapat memberikan perlindungan terhadap diare akut, infeksi saluran napas, infeksi liang telinga tengah, infeksi saluran kemih, neonatal septicemia, dan necrotizing enterocolitis (infeksi usus pada bayi baru lahir).

Namun, antibodi yang terkandung dalam ASI tidak bersifat spesifik pada bakteri atau virus tertentu. Sehingga perlindungannya bersifat universal.

Lalu, bagaimana dengan vaksin? Vaksin merupakan virus yang mati atau dilemahkan kemudian dimasukkan ke dalam tubuh. Virus yang mati, bisa hanya Sebagian dari protein pembentuk yang sudah diolah untuk dapat merangsang antibodi spesifik. Misalnya, vaksinasi difteri khusus untuk merangsang antibodi terhadap kuman difteri, sehingga penerima vaksin dapat memiliki pertahanan terhadap kuman difteri.

Hal ini membuat antibodi dalam ASI dan antibodi yang terbentuk dari vaksinasi sangat berbeda. Penyakit yang saat ini bisa dicegah oleh vaksinasi juga merupakan penyakit2 yang berbahaya bagi anak/bayi, sehingga perlu diberikan sesuai dengan jadwal dan dosisnya meskipun diberikan asi eksklusif.

2. Usia pemberian ASI sampai usia 2 tahun

Pemberian ASI yang disarankan oleh WHO adalah 6 bulan eksklusif dan diteruskan sampai 2 tahun. Selama diberikan ASI, bayi dapat memperoleh antibodi yang terkandung dalam ASI. Tetapi setelah bayi disapih, bayi tidak mendapat asupan antibodi itu lagi dan sampai saat ini belum ada penelitian yang membuktikan berapa lama antibodi tersebut dapat bertahan pada anak. Hal ini terkait dengan sifat antibodi dalam ASI yang universal sehingga sulit diteliti.

Sedangkan kekebalan tubuh yang dihasilkan dari vaksinasi, sudah diteliti dan dinilai dapat bertahan dalam tubuh anak bahkan sampai dewasa dengan pengulangan sesuai jadwal yang ditentukan.

Nah, dari penjelasan tersebut ternyata ASI saja tidak cukup memberikan perlindungan yang optimal pada anak. Jadi jangan ragu lagi untuk tetap memberikan vaksinasi pada anak meskipun sudah diberikan ASI ya.

Admin Prostasia

Share
Published by
Admin Prostasia