Kami melayani Vaksinasi Home Service di Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, dan Bekasi

Vaksin Hepatitis B

Vaksin hepatitis B telah digunakan luas di seluruh dunia selama lebih dari 3 dekade. Diperkirakan sebanyak 537.000 hingga 660.000 kematian per tahun yang berhubungan dengan virus hepatitis B dapat dicegah dengan program vaksinasi massal. Studi imunogenisitas dan keamanan vaksin hepatitis B secara konsisten menunjukkan hasil yang baik. Dari berbagai studi diketahui bahwa setelah vaksinasi primer diberikan, durasi proteksi vaksin hepatitis B berkisar antara 15 hingga 31 tahun. Mempertimbangkan hal tersebut, sampai saat ini, pengulangan (booster) vaksinasi hepatitis B tidak direkomendasikan secara rutin.

Setelah pemberian 3 dosis vaksin hepatitis B, 90% orang dewasa sehat serta 95% bayi, anak, dan remaja sehat akan memiliki antibodi serum anti-HBs yang protektif. Telah diketahui bahwa korelasi proteksi vaksin ini adalah  ≥ 10 mIU/mL. Artinya mereka yang titer anti-HBs-nya mencapai angka tersebut akan terproteksi dari penyakit hepatitis B. Pada orang yang sehat, efikasi vakisn ini mencapai hampir 100% bila titer antibodinya mencapai angka tersebut. Dengan demikian, secara terotoris terdapat 10% populasi dewasa dan 5% populasi anak yang tidak memiliki respons antibodi yang protektif pascapemberian 3 dosis primer vaksin hepatitis B. Secara proporsi, jumlah non-responder memang kecil, namun secara global hal ini dapat menjadi masalah yang penting karena non-responder dapat menjadi karier hepatitis B. Diperlukan strategi khusus untuk mencapai proteksi universal.

Mengapa Terjadi Fenomena Non-Responder

Angka kejadian non-responder terhadap vaksin hepatitis B ditemukan lebih tinggi pada populasi yang tidak sehat ketimbang yang sehat. Respons imun terhadap vaksinasi hepatitis B juga diketahui berbanding terbalik dengan pertambahan usia dan berat badan. Seseorang berusia muda akan memiliki respons imun yang lebih baik daripada orang tua; hal ini menjadi salah satu alasan mengapa vaksin ini harus diberikan sedini mungkin. Orang dengan obesitas juga cenderung memiliki respons imun tidak sebaik orang tanpa obesitas.

Faktor lainnya yang berhubungan dengan berkurangnya imunogenisitas vaksin Hepatitis B adalah penyuntikan vaksin di bokong (m. gluteus), vaksin tidak disimpan pada suhu yang benar. Sedangkan faktor yang memengaruhi respons imun orang yang disuntik adalah adanya infeksi kronik hepatitis B, infeksi kronik hepatitis C, penyakit ginjal kronik, penyakit hati akibat alkoholisme, HIV/AIDS, penyakit Celiac, talasemia, pasien yang menjalani transplantasi organ, dan keadaan imunodefisiensi lainnya. Selain itu, juga terdapat predisposisi genetik. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa laki-laki dan mereka yang merokok memiliki kemungkinan lebih besar untuk tidak memiliki respons imun yang optimal terhadap vaksin hepatitis B. Seluruh kondisi tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fenonemena non-responder. Chiaramonte et al. menduga bahwa fenomena ini terjadi akibat hanya tercetusnya respons imun seluler tanpa diikuti oleh repons imun humoral. Meskipun demikian, mekanisme imunologis yang dapat menjelaskan fenomena ini belum diketahui dengan rinci.