Kami melayani Vaksinasi, Suntik Vitamin, Perawatan Pasien dirumah lainnya di Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, Bekasi, Sukabumi dan sekitarnya.

Meningkatkan Kemampuan Sosial Anak

Bagaimana rasanya hidup di kota tertentu jika Anda berusia 6 tahun atau 60 tahun, apakah Anda berprofesi sebagai seorang guru atau tenaga profesional lainnya, pendatang baru atau penduduk jangka panjang, apa yang mendukung atau mengganggu kehidupan lokal Anda? Bagaimana kita dapat memahami dinamika komunitas maupun lingkungan sekitar kita? Bagaimana kita menentukan untuk bergabung atau tidak dalam kehidupan sosial tertentu yang cukup kompleks sekarang ini? Apakah Anda seorang anak, remaja, dewasa, orang tua yang sudah memiliki respon sosial yang baik?

 

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah hal-hal yang sangat umum dan terbesit dalam benak saya sebagai seorang Terapis Wicara. Kehidupan sosial seseorang, cara berkomunikasi dan berinteraksi sehari-hari, common sense, empati, hal-hal ini menentukan posisi seseorang dalam bermasyarakat, berkarir, maupun dalam kehidupan di keluarga sendiri.

Sebagai Terapis Wicara yang sehari-harinya berkecimpung di dunia anak-anak yang mengalami gangguan dalam berkomunikasi dan berbahasa, saya sadar bahwa setelah masalah komunikasi dan bahasa teratasi, tidak hanya sampai di sana saja, masalah berikutnya yang perlu menjadi perhatian kita adalah bagaimana nantinya anak-anak ini mau atau tidak mau dan siap atau tidak siap harus terjun ke dalam lingkungan sosial, yang mana mengharuskan mereka untuk menempatkan diri di dalam lingkungan tersebut dengan cara bersosialisasi. Jika mereka gagal untuk bersosialisasi maka lingkungan ini akan memberikan feedback negatif pada mereka, misalnya mereka akan mendapat tekanan dari rekan nya (peer pressure) atau mungkin menjadi korban bullying, karena lingkungan tersebut merasa bahwa anak-anak ini “berbeda” dari sebagian besar mereka. (Gresham & Elliott, 1990)

 

Secara umum, individu yang tidak memiliki gangguan interaksi sosial dapat secara alamiah memahami cara bersosialisasi, seperti menyesuaikan respon terhadap situasi sosial tertentu atau kemampuan untuk memaknai komunikasi verbal dan nonverbal. (Jia Yin & Jen Yi, 2018).

Lain hal nya dengan anak yang memiliki gangguan interaksi sosial, mereka mengalami kesulitan untuk memproses makna dari konteks sosial tertentu dan juga untuk menentukan respon yang sesuai dengan situasi sosial yang dihadapi (National Autistic Society, 2017)

Seringkali orang tua yang memiliki anak, ketika mereka masih kecil mengalami kecenderungan kurang bisa bersosialiasi dengan teman, ketidaktepatan dalam melakukan respon interaksi sosial, dan inisiatif interaksi sosial yang kurang. Kemudian dengan berbagai asumsi orang tua seperti, “Anak ini kan masih kecil sehingga memang wajar hal ini terjadi karena ketika dewasa mereka pasti akan berubah”, adalah suatu kesalahan yang cenderung banyak dilakukan oleh orang tua. Lalu di kemudian hari orang tua yang anaknya telah beranjak dewasa mengemukakan banyak pertanyaan, “Kenapa anak saya kurang bisa bersosialisasi seperti teman-teman lainnya?”, “Mengapa anak saya yang sangat cemerlang secara kognitif susah mendapatkan pekerjaan?”, “Mengapa anak saya selalu mendapatkan banyak masalah di setiap komunitas yang dia ikuti?”. Hal-hal yang disampaikan pada beberapa contoh pertanyaan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, kehidupan saat umur anak masih kecil sedikit banyak akan sangat berpengaruh pada kehidupan anak saat dewasa nantinya. Dalam hal ini adalah kemampuan sosial yang menjadi fundamental dalam berbagai elemen kehidupan baik bermasyarakat, berkeluarga, maupun berkarir.

 

Saya bersama terapis, psikolog, dan tenaga ahli lainnya merumuskan suatu solusi yang dapat membantu permasalahan-permasalahan di atas. Proses pembelajaran kemampuan sosial bagi individu dengan gangguan sosial bukanlah hal yang sepenuhnya alamiah dimana bantuan dari lingkungan sekitar diperlukan. Salah satu metode yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan sosial adalah dengan Social Skills Group Therapy. Terapi ini dirancang khusus untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk melatih dan meningkatkan kemampuan sosialnya dalam situasi yang terstruktur, aman, dan suportif (Kaat & Lacavalier, 2014).

Beberapa kasus anak yang dapat dilibatkan dalam Social Skills Group Therapy adalah:

  • Anak normal dengan riwayat gangguan sosial
  • Anak normal dengan riwayat gangguan emosional
  • Anak normal dengan riwayat gangguan pola asuh
  • Anak korban bully dan bullier
  • Anak korban peer pressure
  • Pasien ASD level 1 — post treatment
  • Pasien Slow Learner (IQ min.80) — post treatment
  • Pasien dengan gangguan perilaku

Tujuan Social Skills Group Therapy ini adalah:

  • Meningkatkan kesadaran sosial
  • Meningkatkan self esteem
  • Meningkatkan inisiasi sosial
  • Mengembangkan respon sosial yang sesuai konteks
  • Mengurangi perilaku mengganggu
  • Mengembangkan kemampuan anak untuk menggeneralisasikan kemampuan sosialnya dilingkup yang lebih luas

Karakteristik anak yang dapat mengikuti Social Skills Group Therapy ini :

  • Berusia 4–6 tahun atau 7–9 tahun
  • Paham dan mampu mengikuti perintah kompleks
  • Mampu mempertahankan kontak mata selama berkomunikasi
  • Mampu berinteraksi dengan lawan bicara
  • Mampu merespon instruksi baik secara verbal maupun non verbal
  • Ada ketertarikan untuk bermain secara berkelompok
  • Sudah minim perilaku agresif, tantrum, dan perilaku destruktif (anak bisa diarahkan)
  • Mampu memahami pertanyaan 5W 1H

 

Selain merumuskan Social Skill Group Therapy ini, kami mengajak para orang tua maupun keluarga untuk turut meningkatkan awareness mengenai kehidupan sosial anak. Karena kita sebagai orang tua maupun keluarga sangat bertanggung jawab terhadap perkembangan kehidupan sosial anak mulai sejak dini, dan bahwasanya keberhasilan anak di masa depan tidak terjadi secara instan begitu saja, demikian pula dengan kegagalan anak. We love our children no matter what happens! But the love would be complete if we’re taking responsibillity about our children’s childhood as parent and family. Sebagaimana kita ketahui bahwa keluarga adalah dasar di mana keterampilan sosial ini terbentuk, maka peran orang tua dalam membimbing anak mendapatkan kemampuan sosial sangatlah penting. Nantinya kemampuan bersosialisasi anak akan sangat berpengaruh terhadap perilaku, performa akademik anak, dan masa depan anak. (Bub, McCartney, & Willet, 2007).